![]()
![]()
No. 01/05/53/Th. XV, 1 Mei 2012
Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Provinsi NTT
Bulan April 2012: Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami deflasi sebesar 0,06 persen
- April 2012, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami deflasi sebesar 0,06 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 140,87. Dari dua kota IHK di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,30 persen dan Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 1,20 persen.
- Deflasi ini terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 1,17 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03 persen dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan 0,40 persen.
- Andil deflasi terbesar di Provinsi NTT disumbang oleh kelompok bahan makanan sebesar 0,34 persen.
- Laju inflasi Provinsi Nusa Tenggara Timur menurut tahun kalender (Januari-April 2012) sebesar 0,97 persen dan laju inflasi year on year (April 2012 terhadap April 2011) sebesar 3,77 persen. Laju inflasi Kota Kupang menurut tahun kalender (Januari- April 2012) sebesar 0,83 persen dan laju inflasi year on year (April 2012 terhadap April 2011) sebesar 3,11 persen. Laju inflasi Kota Maumere menurut tahun kalender (Januari- April 2012) sebesar 1,70 persen dan laju inflasi year on year (April 2012 terhadap April 2011) sebesar 7,28 persen.
- Secara Nasional, dari 66 kota IHK, 52 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Pangkal Pinang, 1,72 persen dan terendah terjadi di Kota Bengkulu sebesar 0,03 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Tarakan, sebesar 0,51 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Banjarmasin 0,01 persen.
No. 02/05/53/Th. XV, 1 Mei 2012
Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi NTT April 2012
- Nilai Tukar Petani (NTP) bulan April 2012 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2007 (2007=100). Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi & palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.
- Pada bulan Maret 2012, NTP Nusa Tenggara Timur sebesar 102,05 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 99,18 untuk subsektor padi & palawija (NTP-P), 96,36 untuk subsektor hortikultura (NTP-H), 101,32 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-R), 114,09 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 115,72 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).
- Pada bulan April 2012, NTP Nusa Tenggara Timur sebesar 101,48 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 97,79 untuk subsektor padi & palawija (NTP-P), 96,81 untuk subsektor hortikultura (NTP-H), 101,19 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-R), 114,41 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 116,08 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).
- Jika dibandingkan NTP Maret 2012 dengan April 2012, terjadi penurunan sebesar 0,57 persen. Hal ini mengindikasikan adanya penurunan kemampuan daya beli petani di pedesaan NTT pada April 2012, terutama pada sub sektor padi & palawija serta sub sektor tanaman perkebunan rakyat.
No. 03/05/53/Th. XV, 1 Mei 2012
Perkembangan Ekspor dan Impor NTT Bulan Februari 2012
- Nilai ekspor nonmigas Provinsi Nusa Tenggara Timur pada bulan Februari 2012 sebesar sebesar US$ 674.812 dengan volume sebesar 3.927,8 ton naik 58,71 persen dibanding ekspor bulan Januari 2012 sebesar US$ 425.195.
- Komoditas ekspor terbesar bulan Februari 2012 adalah kelompok komoditas bijih, kerak dan abu logam yang di ekspor ke China dengan nilai ekspor sebesar US$ 356.400 atau 54,93 persen dari total ekspor.
- Komoditas ekspor bulan Februari 2012 seluruhnya dikirim melalui Pelabuhan Atapupu-NTT, dengan negara tujuan China dan Timor Leste.
- Nilai impor Provinsi Nusa Tenggara Timur pada bulan Februari 2012 sebesar US$ 3.311 dengan volume sebesar 87 kg, dengan komoditas utama impor perangkat optik kode HS 2 dijit (90). Seluruh komoditas impor melalui pelabuhan Tenau-NTT, dengan negara asal Singapura.
- Jika dibandingkan kumulatif nilai ekspor pada tahun 2012 sebesar US$ 1.100.007 terhadap nilai impor sebesar US$ 3.311 maka terdapat surplus sebesar US$ 1.096.696.
No. 04/05/53/Th. XV, 1 Mei 2012
Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar Hotel (TPK) Berbintang dan Angkutan Udara Maret 2012
- Tingkat Penghunian Kamar Hotel (TPK) berbintang di NTT pada bulan Maret 2012 sebesar 40,65 persen, mengalami kenaikan 10,2 persen dibanding TPK bulan Februari 2012 sebesar 30,45 persen.
- Jumlah tamu yang menginap di hotel berbintang bulan Maret 2012 sebanyak 6.354 orang dengan rincian 5.713 orang tamu nusantara dan 641 orang tamu mancanegara.
- Rata-rata lama tamu menginap di hotel berbintang pada bulan Maret 2012 selama 2,89 hari. Rata-rata lama tamu nusantara menginap selama 2,26 hari dan rata-rata lama tamu mancanegara menginap selama 8,57 hari.
- Jumlah penumpang angkutan udara yang tiba di NTT pada bulan Maret 2012 sebanyak 70.021 orang sedangkan penumpang yang berangkat sebanyak 68.113 orang.
No. 07/05/53/Th. XV, 7 Mei 2012
Pertumbuhan Ekonomi (PDRB) NTT
Pertumbuhan Ekonomi NTT Triwulan I 2012 Tumbuh sebesar 5,42% (Y on Y) dan Minus 5,10% (Q to Q)
- PDRB NTT pada triwulan I tahun 2012 turun hingga mencapai minus 5,10 persen dibandingkan triwulan IV tahun 2011. Pertumbuhan minus ini dialami oleh semua sektor ekonomi tanpa kecuali sektor pertanian yang mengalami pertumbuhan sebesar -0,03 persen. Hal ini dikarenakan anomali cuaca yang mengakibatkan pada beberapa komoditi mengalami penurunan produksi disamping faktor musim panen pada triwulan I.
- PDRB NTT pada triwulan I tahun 2012 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2011 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 5,42 persen.
- Perekonomian NTT yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan I tahun 2012 mencapai Rp. 8,03 triliun rupiah, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 adalah Rp. 3,29 triliun rupiah.
- Pengeluaran konsumsi rumah tangga pada triwulan I tahun 2012 dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2011 (q to q) menurun secara riil sebesar minus 3,62 persen, demikian pula pengeluaran konsumsi pemerintah menurun sebesar minus 28,68 persen, sementara pembentukan modal tetap bruto turun sebesar minus 19,47 persen, demikian juga ekspor barang dan jasa turun sebesar minus 17,70 persen selanjutnya komponen impor barang dan jasa turun sebesar minus 31,67 persen.
- Dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2011 (y-on-y), pada triwulan I 2012 terjadi peningkatan hampir pada seluruh komponen penggunaan yakni: pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat sebesar 5,48 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat sebesar 4,10 persen, pembentukan modal tetap bruto meningkat sebesar 12,73 persen; ekspor barang-jasa meningkat sebesar 6,67 persen, sedangkan impor barang dan jasa menurun sebesar minus 4,80 persen.
No. 05/01/53/Th. XVI, 2 Januari 2012
Profil Kemiskinan di Provinsi NTT September 2011
- Persentase penduduk miskin Provinsi NTT pada periode Triwulan III September 2011 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode Triwulan I Maret 2011, yaitu dari sebesar 21,23 persen menjadi 20,48 persen.
- Pada periode Triwulan I Maret 2011 sampai Triwulan III September 2011 terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 26,4 ribu orang. Sebanding dengan hal tersebut pada periode kwartal III laju pertumbuhan PDRB NTT (Q-to-Q) mengalami kenaikan sebesar 2,78 persen. Ini menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi yang positif dapat meningkat pendapatan perkapita penduduk dan selanjutnya meningkatkan pengeluaran konsumsi yang dapat mengangkat rata-rata konsumsi penduduk dari garis kemiskinan. Selama Periode Maret 2011 – September 2011 juga ditandai dengan inflasi umum di NTT relatif rendah, yaitu sebesar 1,24 persen.
- Pada Triwulan III September 2011, jumlah penduduk miskin kembali turun menjadi 986,50 ribu orang atau berkurang sebesar 26,4 ribu orang dibanding Triwulan I Maret 2011.
- Selama Maret 2011-September 2011, Garis Kemiskinan naik sebesar 2,55 persen, yaitu dari Rp 198.553,- per kapita per bulan pada Maret 2011 menjadi Rp 203.607,- per kapita per bulan pada September 2011. Kenaikan GKM pada periode ini sebesar 2 kali dari nilai inflasi umum NTT (Inflasi bulan Maret-September = 1,24 persen).
- Pada periode Maret 2011 - September 2011, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan adanya perubahan. Indeks Kedalaman Kemiskinan pada keadaan Maret 2011 4,20 menjadi 3,53 pada keadaaan September 2011. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 1,27 menjadi 0,91 pada periode yang sama.
No. 06/05/53/Th. XV, 7 Mei 2011
Keadaan Ketenagakerjaan NTT Februari 2012
FEBRUARI 2012: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA NTT SEBESAR 2,39%
- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) NTT Februari 2012 mencapai 2,39 persen, turun 0,28 poin dari Februari 2011 sebesar 2,67 persen. Secara nasional TPT Indonesia pada Februari 2012 mencapai 6,32 persen, jauh lebih tinggi dari TPT Provinsi NTT.
- Penganggur di NTT pada Februari 2012 sebesar 54,1 ribu orang, berkurang 5,5 ribu orang (9,25 persen) dibanding penganggur pada Februari 2011 sebesar 59,7 ribu orang.
- Angkatan kerja NTT pada Februari 2012 mencapai 2,27 juta orang, bertambah 31,1 ribu orang (1,39 persen) dibanding angkatan kerja Februari 2011 sebesar 2,23 juta orang. Secara nasional angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 120,42 juta orang, bertambah 1,0 juta orang dibanding angkatan kerja Februari 2011 sebesar 119,40 juta orang.
- Penduduk yang bekerja di NTT pada Februari 2012 mencapai 2,21 juta orang, bertambah 36,6 ribu orang (1,68 persen) dibanding dengan keadaan pada Februari 2011 sebesar 2,18 juta orang.
- Selama setahun terakhir (Februari 2011 – Februari 2012), jumlah penduduk yang bekerja mengalami kenaikan terutama di sektor pertanian sebesar 43,8 ribu orang (2,99 persen) sedangkan sektor industri, sektor konstruksi dan sektor jasa kemasyarakatan mengalami penurunan masing-masing sebesar 16,0 ribu orang, 15,2 ribu orang dan 6,4 ribu orang.
- Berdasarkan status dalam pekerjaan utama, pada periode setahun terakhir pertambahan pekerja hanya pada penduduk yang bekerja dengan status berusaha sendiri, pekerja bebas di non pertanian dan pekerja keluarga/tak dibayar dengan pertambahan pekerja paling banyak pada pekerja dengan status sebagai pekerja keluarga/tak dibayar sebanyak 56,1 ribu orang (7,40 persen). Dengan demikian pekerja informal bertambah menjadi sebesar 81,87 persen dan pekerja formal 18,13 persen.
No. 05/11/53/Th. XIV, 1 November 2011
Produksi Padi & Palawija NTT (Angka Ramalan III 2011)
- Perkembangan produksi padi Nusa Tenggara Timur (NTT) 10 tahun terakhir meningkat rata-rata 2,6 persen. Produksi padi di NTT pada tahun 2009 berada di titik puncaknya, sementara produksi Jagung tertinggi pada tahun 2008. Perkembangan kedua komoditi (Padi dan Jagung) ini cenderung memiliki hubungan yang negatif, yang artinya disaat produksi padi meningkat maka produksi jagung cenderung menurun, atau sebaliknya.
- Angka tetap tahun 2010 produksi padi sebanyak 555 493 ton GKG, sedangkan tahun 2011 diperkirakan sebanyak 564 168 ton GKG (meningkat 1,5%). Perkiraan produksi padi tersebut menghasilkan beras yang tersedia untuk dikonsumsi sebanyak 322 287 ton, sedangkan dengan jumlah penduduk sebanyak 4 777 582 jiwa (dengan laju rata-rata pertumbuhan penduduk NTT 2,1% selama 10 tahun) dibutuhkan beras sebanyak 541 019 ton, dengan demikian terdapat kekurangan 226 790 ton. Kekurangan beras tersebut dapat dipenuhi dengan diversifikasi pangan, juga melalui pemanfaatan lahan sawah terlantar dan peningkatan produktifitas. Pada akhir tahun 2010, lahan sawah yang tidak ditanami dan sementara tidak diusahakan seluas 13 043 Ha. Sebagai upaya meningkatkan produktifitas padi, tahun 2011 Dinas Pertanian menggalakkan program intensifikasi tanaman padi di seluruh kabupaten se-NTT. Hal tersebut diharapkan akan berdampak positif terhadap total produksi padi guna memperkecil angka kekurangan beras di NTT nantinya.
- Angka tetap produksi jagung tahun 2010 sebesar 653 620 ton pipilan kering. Angka Ramalan III tahun 2011 memperkirakan produksi jagung menurun 19,9 persen (522 970 ton). Hal tersebut diakibatkan oleh penurunan produktifitas sebesar 20,9 persen, yaitu dari 26,71 kw/ha di tahun 2010 menjadi 21,11 kw/ha di tahun 2011. Curah hujan di awal tahun 2011 sangat memengaruhi produktifitas jagung.
- Komoditi pangan lain seperti kacang-kacangan (kacang hijau dan kedelei) tahun 2011 diprediksikan mengalami penurunan produksi dari tahun sebelumnya. Sementara itu untuk kacang tanah diprediksi mengalami peningkatan sebesar 16,6 persen. Produksi ubi kayu diprediksikan meningkat 5,9 persen di banding tahun 2010, sedangkan ubi jalar diperkirakan meningkat 3,1 persen. Peningkatan produksi komoditi umbi-umbian tersebut menunujukan bahwa ubi kayu dan ubi jalar sangat berpotensi sebagai komoditi alternative dalam diversifikasi pangan di NTT.
No. 09/05/53/Th. XV, 1 Mei 2012
Perkembangan Produksi Industri Manufaktur di Provinsi NTT Triwulan I 2012
- Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang (q-to-q) Triwulan I Tahun 2012 di NTT meningkat sekitar 4,86 persen. Pertumbuhan (y-on-y) Triwulan I Tahun 2012 terhadap Triwulan yang sama Tahun 2011 sekitar 1,51 persen.
- Pertumbuhan Produksi Industri Mikro dan Kecil (q-to-q) Triwulan I Tahun 2012 di NTT meningkat 6 persen, sedangkan secara nasional menurun sebesar -1.12 persen. Pertumbuhan (y-on-y) Triwulan I Tahun 2012 terhadap Triwulan yang sama Tahun 2011 untuk NTT meningkat sekitar 11.39 persen sedangkan nasional meningkat sebesar 7.22 persen.
No. 10/05/53/Th. XV, 7 Mei 2012
Perkembangan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I-2012 Provinsi NTT
Triwulan I/2012: Kondisi ekonomi konsumen Nusa Tenggara Timur meningkat namun tingkat optimismenya menurun dibanding triwulan IV/2011
- Indeks Tendensi Konsumen (ITK) merupakan indeks komposit persepsi rumahtangga yang menggambarkan kondisi ekonomi konsumen dan perilaku konsumsi terhadap situasi perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang. Nilai indeks ini dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). Responden STK merupakan sub-sampel dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) khusus di daerah perkotaan. Pemilihan sampel dilakukan secara panel antar triwulan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan persepsi konsumen antar waktu.
- Indeks Tendensi Konsumen (ITK) NTT pada Triwulan I-2011 sebesar 103,89, artinya kondisi ekonomi konsumen meningkat dari triwulan sebelumnya. Membaiknya kondisi ekonomi konsumen didorong oleh peningkatan pendapatan rumah tangga (indeks 101,67), dan rendahnya pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari. Tingkat konsumsi rumah tangga terhadap komoditi makanan meningkat (indeks 100,29) sedang konsumsi bukan makanan menurun ( indeks 93,51), dan secara gabungan tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan menurun (nilai indeks sebesar 97,39). Kondisi ekonomi triwulan I tingkat persepsi ekonominya menurun dibanding triwulan sebelumnya karena pengaruh hari raya dan gejolak rencana kenaikan harga BBM.
- Perbaikan kondisi ekonomi konsumen terjadi di semua provinsi di Indonesia. Provinsi yang memiliki nilai ITK tertinggi adalah Provinsi DKI (nilai ITK sebesar 110,23) sedang provinsi yang memiliki nilai ITK terendah adalah Provinsi Aceh (nilai ITK sebesar 102,33). NTT menduduki ranking 4 terbawah setelah setelah Provinsi Aceh, Jambi dan Lampung.
- Nilai ITK NTT pada Triwulan II-2012 diperkirakan sebesar 108,44, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan membaik. Tingkat optimisme konsumen diperkirakan akan meningkat dibandingkanTriwulan I-2011 (nilai ITK sebesar 103,89).
- Perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan II-2012 didorong oleh peningkatan pendapatan rumahtangga mendatang (nilai indeks sebesar 110,97) dan rencana pembelian barang tahan lama (nilai indeks sebesar 103,67).
No. 07/11/53/Th.XIV.1 November 2011
Hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah dan Kerbau (PSPK) 2011
- Hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) 2011 yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia mulai 1-30 Juni 2011, populasi sapi potong NTT mencapai 778,6 ribu ekor; sapi perah 32 ekor dan kerbau 150,0 ribu ekor. Kabupaten yang memiliki populasi sapi potong lebih dari 100 ribu ekor berturut turut adalah TTS 167,8 ribu ekor; Kupang 151,2 ribu ekor; dan Belu 111,2 ribu ekor. Sementara itu sapi perah hanya terdapat di 3 kabupaten, yakni TTS 23 ekor; Belu 5 ekor; dan Kupang 4 ekor. Sedangkan untuk kerbau, kabupaten dengan populasi lebih dari 13 ribu ekor berturut-turut adalah Sumba Timur 37,1 ribu ekor; Manggarai Barat 22,6 ribu ekor; dan Sumba Barat Daya 13,7 ribu ekor (Tabel 1).
- Secara pulau/kepulauan, sebagian besar populasi sapi potong terdapat di Pulau Timor 533,7 ribu ekor atau 68,5 Persendari populasi sapi potong NTT; Pulau Flores 132,4 ribu ekor (17,0 %); Pulau Sumba 62,5 ribu ekor (8,0 %), dan Kepulauan Lainnya (Alor, Lembata, Rote Ndao, dan Sabu Raijua) 50,1 ribu ekor (6,4 %). Untuk kerbau terbanyak dijumpai di Pulau Sumba 69,9 ribu ekor (46,6 %); Pulau Flores 57,5 ribu ekor (38,3 %); Pulau Flores 57,5 ribu ekor (38,3 %); Pulau Rote 11,5 ribu ekor (7,7 %), dan sisanya tersebar di pulau-pulau Lainnya (7,4 %).
- Komposisi jenis kelamin antara populasi sapi potong, sapi perah dan kerbau menunjukkan pola yang relatif sama, dimana jumlah terbesar adalah pada jenis kelamin betina. Proporsi betina terhadap total populasi masing-masing jenis ternak adalah : sapi potong betina sekitar 68,4 persen, sapi perah betina 53,1 Persen dan kerbau betina 68,3 persen. Jika dilihat berdasarkan komposisi umur ternak betina untuk ternak sapi potong, sapi perah, dan kerbau) maka proporsi terbanyak adalah pada umur dewasa (>2 tahun). Proporsi betina dewasa terhadap total betina untuk masing-masing jenis ternak adalah : sapi potong 66,2 persen; sapi perah 88,2 persen dan kerbau 73,3 persen. Menurut komposisi umur ternak jantan, proporsi terbanyak pada sapi potong dan kerbau jantan juga ada pada umur dewasa, yakni sekitar 39,2 Persen dan 43,6 Persen terhadap total populasi jantan masing-masing jenis ternak; sementara untuk sapi perah jantan, proporsi terbanyak ada pada umur muda (1-2 tahun) sekitar 46,7 persen dari total populasi sapi perah jantan.
![]()

















