Produk - Berita dan Siaran Pers
[OPINI] Bae Sonde Bae NTT Lebe Bae -Potensi Dicatat, Masa Depan Dirancang
17 Maret 2026 | Kegiatan Statistik Lainnya
Oleh: Marlyn
Jeanne Christine (Statistisi Ahli Madya, Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa
Tenggara Timur)
Telah terbit di https://kupang.tribunnews.com/editorial/954851/opini-bae-sonde-bae-ntt-lebe-bae-potensi-dicatat-masa-depan-dirancang
“Bae sonde bae, NTT lebe bae.” Ungkapan yang akrab di
telinga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) ini bukan sekadar ekspresi
emosional semata, melainkan refleksi dari ketangguhan, optimisme, dan tekad
untuk terus bergerak maju ke arah yang lebih baik. Dalam konteks pembangunan,
ungkapan ini mencerminkan semangat kolektif masyarakat untuk menghadapi
berbagai keterbatasan dan tantangan yang ada.
Dalam hal perekonomian, NTT memiliki karakteristik
wilayah kepulauan dengan kondisi geografis yang tersebar, keterbatasan
infrastruktur, serta tantangan iklim yang tidak selalu bersahabat. Kondisi
tersebut seringkali menjadi hambatan dalam upaya mempercepat pertumbuhan
ekonomi. Namun demikian, berbagai indikator menunjukkan bahwa perekonomian NTT
terus bergerak maju dan memperlihatkan potensi perbaikan dari waktu ke waktu.
Struktur ekonomi NTT dalam satu dekade terakhir
menunjukkan dinamika yang cukup menarik. Sektor tersier yang mencakup
perdagangan dan jasa semakin menunjukkan dominasinya di tengah kemajuan
teknologi, perkembangan sektor pariwisata, serta meningkatnya mobilitas
masyarakat. Pada tahun 2025, kontribusi sektor tersier mencapai sekitar 59,26
persen terhadap total nilai tambah seluruh aktivitas ekonomi atau yang dikenal
sebagai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Angka tersebut meningkat
dibandingkan tahun 2016 yang sebesar 57,52 persen.
Sementara itu, kontribusi sektor primer yang meliputi
pertanian dan pertambangan serta sektor sekunder yang mencakup industri
pengolahan, pengadaan listrik dan air, serta konstruksi cenderung mengalami
penurunan dalam struktur ekonomi. Pergeseran ini menunjukkan bahwa perekonomian
NTT perlahan bergerak menuju dominasi aktivitas perdagangan dan jasa, meskipun
sektor primer tetap memiliki peran penting sebagai fondasi ekonomi, terutama
bagi masyarakat di wilayah pedesaan.
Jika dilihat lebih rinci dari struktur PDRB sisi
produksi yang terdiri dari 17 kategori lapangan usaha, kategori pertanian masih
menjadi penopang utama perekonomian NTT. Lapangan usaha ini mencakup berbagai
subkategori seperti tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan,
kehutanan, dan perikanan. Pada tahun 2025, kontribusi sektor pertanian mencapai
sekitar 28,58 persen Terhadap total PDRB. Selain itu, lapangan usaha
perdagangan besar dan eceran juga menunjukkan peran yang semakin kuat dengan
kontribusi sekitar 13,55 persen, diikuti oleh jasa administrasi pemerintahan
dengan kontribusi sebesar 12,95 persen. Struktur ini menggambarkan bahwa
aktivitas ekonomi di NTT tidak hanya bertumpu pada sektor primer, tetapi juga
mulai berkembang pada sektor jasa dan perdagangan yang mendukung distribusi
barang dan pelayanan kepada masyarakat.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih
menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi di NTT. Pada tahun 2025, konsumsi
rumah tangga berkontribusi sekitar 65,16 persen terhadap total PDRB. Hal ini
menunjukkan bahwa daya beli dan aktivitas konsumsi masyarakat memegang peranan
penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di NTT.
Selain konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap
Bruto (PMTB) atau investasi juga semakin menunjukkan peran strategisnya dalam
menopang aktivitas ekonomi. Investasi yang terus mengalir menjadi sinyal
positif bagi perkembangan perekonomian di NTT. Hal ini tercermin dari
meningkatnya realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal
Asing (PMA) dalam beberapa tahun terakhir yang menunjukkan meningkatnya
kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi NTT.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian dalam strategi
pembangunan NTT saat ini adalah sektor pariwisata. Pengembangan destinasi wisata,
termasuk kawasan destinasi super prioritas, diharapkan mampu memberikan multiplier
effect terhadap berbagai aktivitas ekonomi lainnya seperti penyediaan jasa
akomodasi, makan/minum, transportasi serta berbagai usaha pendukung lainnya.
Data menunjukkan bahwa jumlah daya tarik wisata di NTT
meningkat signifikan dari 443 lokasi pada tahun 2016 menjadi 1.637 lokasi pada
tahun 2025. Peningkatan ini menunjukkan semakin berkembangnya potensi
pariwisata yang dimiliki oleh provinsi ini.
Dari sisi kunjungan wisatawan, pada tahun 2016 tercatat
sekitar 496 ribu wisatawan yang berkunjung ke NTT, terdiri dari sekitar 66 ribu
wisatawan mancanegara dan 431 ribu wisatawan domestik. Setelah sempat mengalami
penurunan tajam akibat pandemi Covid-19, jumlah kunjungan wisatawan kembali
meningkat. Pada tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 1,13
juta orang yang terdiri dari sekitar 367 ribu wisatawan mancanegara dan 778
ribu wisatawan domestik.
Peningkatan aktivitas pariwisata ini turut mendorong
pertumbuhan usaha pendukung seperti hotel dan restoran. Jumlah penginapan yang
terdiri dari hotel berbintang dan non-bintang meningkat dari 333 unit pada
tahun 2016 menjadi 687 unit pada tahun 2025. Sementara itu, jumlah restoran
atau rumah makan pada tahun 2025 tercatat sebanyak 3.076 usaha, meningkat
sekitar 83 persen dibandingkan tahun 2016 yang berjumlah 1.683 usaha.
Dari sisi kesejahteraan, berbagai indikator sosial juga
menunjukkan perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT meningkat dari
66,93 pada tahun 2020 menjadi 69,89 pada tahun 2025. Peningkatan ini
mencerminkan adanya kemajuan dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan standar
hidup masyarakat.
Tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan dari 21,35
persen pada tahun 2018 menjadi 18,60 persen pada tahun 2025. Meskipun demikian,
angka tersebut masih tergolong tinggi dibandingkan rata-rata nasional sehingga
penanggulangan kemiskinan tetap menjadi tantangan besar yang perlu ditangani
secara berkelanjutan.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka di NTT
relatif rendah dan dalam beberapa tahun terakhir berada pada kisaran 3 persen,
lebih rendah dari rata-rata nasional yang mencapai kisaran 4 persen. Kondisi
ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk usia kerja telah terserap dalam
kegiatan ekonomi. Dengan demikian, secara kuantitas tenaga kerja di NTT
sebenarnya cukup memadai untuk mendukung pembangunan ekonomi di provinsi ini.
Namun demikian, tantangan utama yang masih dihadapi
adalah rendahnya produktivitas tenaga kerja yang sebagian besar masih bekerja
pada sektor informal dan kegiatan ekonomi dengan nilai tambah yang relatif
rendah. Kondisi ini menyebabkan banyak masyarakat yang secara statistik
bekerja, tetapi pendapatan yang diperoleh belum cukup untuk meningkatkan
kesejahteraannya secara signifikan.
Selain sektor pariwisata dan tenaga kerja, NTT juga
memiliki berbagai potensi ekonomi lainnya yang dapat menjadi pendorong
percepatan pertumbuhan ekonomi. Sektor pertanian misalnya, memiliki sejumlah
komoditas unggulan yang telah dikenal luas hingga pasar ekspor seperti ternak
sapi, kopi, jambu mete, vanili, dan kemiri yang dikenal memiliki kualitas yang
baik. Di sisi lain, potensi perikanan dan kelautan juga sangat besar mengingat
wilayah NTT memiliki garis pantai yang panjang dan wilayah laut yang kaya akan
sumber daya.
Namun demikian, besarnya potensi tersebut belum
sepenuhnya memberikan dampak optimal terhadap kesejahteraan masyarakat. Tingkat
kemiskinan yang masih relatif tinggi menunjukkan bahwa masih diperlukannya
strategi pembangunan yang lebih terarah, efisien, dan berbasis pada potensi
ekonomi lokal.
Pembangunan ekonomi tentunya tidak dapat hanya bertumpu
pada optimisme atau persepsi semata. Perencanaan pembangunan membutuhkan
dukungan data yang akurat, mutakhir, dan komprehensif agar kebijakan yang
diambil benar-benar tepat sasaran dan tepat guna. Tanpa data yang kuat,
berbagai program pembangunan berisiko tidak efektif, tidak efisien, dan tidak
optimal menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Dalam konteks inilah pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026
(SE2026) menjadi sangat penting dan strategis. Melalui pendataan menyeluruh
terhadap seluruh unit usaha non-pertanian di seluruh kabupaten/kota di NTT,
pemerintah dan berbagai stakeholders akan memperoleh gambaran yang lebih
lengkap mengenai kondisi dan struktur ekonomi yang ada saat ini.
Data yang dihasilkan dari sensus ini nantinya dapat
dimanfaatkan oleh pemerintah pusat maupun daerah sebagai dasar dalam merumuskan
kebijakan pembangunan, menyusun perencanaan ekonomi, mengevaluasi program yang
telah berjalan, serta mengidentifikasi sektor-sektor ekonomi yang memiliki
potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Bagi dunia usaha dan investor, data hasil Sensus Ekonomi
dapat menjadi referensi penting dalam membaca peluang pasar, menentukan lokasi
investasi, serta memahami karakteristik usaha yang berkembang di suatu wilayah.
Sementara bagi kalangan akademisi dan masyarakat luas, data sensus dapat
menjadi sumber informasi yang objektif untuk melakukan kajian mengenai
perkembangan ekonomi dan memberikan rekomendasi bagi kebijakan pembangunan yang
lebih efektif.
Pelaksanaan SE2026 di wilayah kepulauan seperti NTT
tentunya tidak terlepas dari tantangan. Sebaran wilayah yang luas, kondisi
geografis antarpulau, keterbatasan akses transportasi, serta keragaman
karakteristik usaha menjadi tantangan tersendiri dalam proses pendataan. Oleh
karena itu, keberhasilan pelaksanaan sensus ini sangat bergantung pada dukungan
berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, pelaku usaha,
hingga partisipasi aktif masyarakat luas dalam mengawal pendataan.
Petugas sensus yang datang akan dilengkapi identitas
resmi dan surat tugas. Data yang diberikan oleh responden juga dijamin
kerahasiaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hanya
digunakan untuk kepentingan analisis statistik secara makro, bukan untuk
kepentingan perpajakan maupun penegakan hukum.
Pada akhirnya, semangat “bae sonde bae, NTT lebe bae”
seharusnya tidak berhenti pada kebanggaan identitas semata, tetapi diwujudkan
dalam tindakan nyata. Salah satu bentuk nyata tersebut adalah dengan mendukung
pelaksanaan pendataan SE2026. Melalui pendataan ini, setiap pelaku usaha,
sekecil apa pun, memiliki kesempatan untuk dicatat dan menjadi bagian dari
dasar perencanaan pembangunan ekonomi NTT dan nasional. Partisipasi kita semua
dalam memberikan data yang benar dan lengkap merupakan langkah yang sangat
penting, agar upaya menjadikan NTT “lebe bae” benar-benar terwujud melalui
kerja bersama yang berbasis pada data yang akurat dan terpercaya.

Badan Pusat Statistik
Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur (Statistics of Nusa Tenggara Timur Province)Jl. R. Suprapto No. 5 Kupang - 85111
Telp (0380) 826289; 821755; Faks (0380) 833124
Mailbox : pst5300@bps[dot]go[dot]id
bps5300@bps[dot]go[dot]id
Tentang Kami
Sumber dari Kementerian Komunikasi dan Digital
Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik