[OPINI] Sektor Ekonomi Terlihat ‘Underrated’ Padahal Unggul di NTT - Berita dan Siaran Pers - Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur

Untuk layanan konsultasi data silahkan hubungi kami melalui 082247291975 (whatsapp only) atau melalui email [email protected]

Anda merasa pelayanan kami kurang optimal? Laporkan pengaduan anda disini 

| Anda hobi menulis? Submit Karya Ilmiahmu di Jurnal Statistika Terapan (JSTAR) BPS Provinsi NTT melalui tautan jstar.id

Beranda

Produk - Berita dan Siaran Pers

[OPINI] Sektor Ekonomi Terlihat ‘Underrated’ Padahal Unggul di NTT

[OPINI] Sektor Ekonomi Terlihat ‘Underrated’ Padahal Unggul di NTT

[OPINI] Sektor Ekonomi Terlihat ‘Underrated’ Padahal Unggul di NTT

18 September 2026 | Kegiatan Statistik Lainnya


Oleh : Diah Mekita Sari, S.Tr.Stat., Statistisi Ahli Pertama BPS Provinsi NTT


Artikel Ini Telah Tayang Di Garda Indonesia Dengan Judul :

Sektor Ekonomi Terlihat ‘Underrated’ Padahal Unggul di NTT - Garda Indonesia

Baca Selengkapnya :

https://gardaindonesia.id/sektor-ekonomi-terlihat-underrated-padahal-unggul-di-ntt/



Ketika berbicara tentang sektor unggulan suatu daerah, kita sering kali langsung membayangkan sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian.


Di Provinsi NTT misalnya. Pertanian, kehutanan, dan perikanan memang sangat mudah disebut sebagai sektor penting karena perannya yang besar dalam struktur ekonomi daerah.


Namun, apakah sektor yang kontribusinya besar selalu merupakan sektor yang paling unggul? Jawabannya belum tentu.


Ada sektor yang dari sisi nilai ekonomi mungkin belum sebesar sektor-sektor utama lainnya, tetapi justru memiliki posisi yang relatif lebih kuat di NTT dibandingkan struktur ekonomi nasional. Sektor seperti inilah yang menarik untuk diperhatikan karena menyimpan potensi pengembangan di masa depan. Untuk melihatnya, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Location Quotient (LQ).


LQ pada dasarnya adalah alat sederhana untuk menjawab satu pertanyaan: seberapa kuat posisi suatu sektor di NTT dibandingkan posisi sektor yang sama secara nasional? Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi sektor yang memiliki keunggulan komparatif atau tingkat spesialisasi relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.


Cara memahami LQ sebenarnya cukup sederhana. Misalkan kita ingin melihat LQ sektor informasi dan komunikasi. Pertama, kita hitung berapa besar kontribusi sektor informasi dan komunikasi terhadap total perekonomian NTT. Setelah itu, kita hitung pula berapa besar kontribusi sektor yang sama terhadap total perekonomian Indonesia.


Selanjutnya, kedua angka tersebut dibandingkan. Jika hasilnya lebih besar dari 1, berarti sektor tersebut memiliki porsi yang lebih besar di NTT dibandingkan porsi sektor yang sama dalam perekonomian nasional. Dalam analisis ini, sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor unggulan di NTT. Jika nilainya kurang dari 1, berarti tingkat spesialisasinya di NTT masih berada di bawah struktur nasional.


Dengan demikian, LQ tidak semata-mata bertanya, “Sektor mana yang menghasilkan uang paling banyak?”. LQ lebih tepat digunakan untuk melihat, “Sektor mana yang unggul di NTT dibandingkan di Indonesia?”


Sudut pandang ini penting karena besarnya nilai ekonomi dan kuatnya keunggulan relatif adalah dua hal yang berbeda.


Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi NTT tahun 2025 yang bernilai total Rp148 triliun dan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp23.636 triliun, hasil analisis LQ menunjukkan gambaran yang sangat menarik. Hasil penghitungan LQ Provinsi NTT menunjukkan terdapat enam sektor dengan nilai LQ di atas 1, yaitu Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; Informasi dan Komunikasi; Jasa Keuangan dan Asuransi; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib; Jasa Pendidikan; serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial.


Menariknya, tidak semua sektor tersebut selama ini selalu dipersepsikan masyarakat sebagai “sektor unggulan” NTT dan cenderung “underrated” atau kualitas bagus, namun kurang mendapatkan perhatian.


Pertanian, kehutanan, dan perikanan mungkin merupakan sektor yang paling mudah dikenali sebagai sektor unggulan. Pada 2025, sektor ini menghasilkan PDRB NTT sekitar Rp42 triliun dengan nilai LQ 2,20. Angka ini berarti proporsi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam ekonomi NTT jauh lebih besar dibandingkan proporsi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam perekonomian Indonesia.


Di sini lain, terdapat beberapa sektor yang menarik untuk diperhatikan karena selama ini mungkin belum menjadi pusat perhatian ketika kita membicarakan kekuatan ekonomi NTT.


Salah satu sektor tersebut adalah informasi dan komunikasi, dengan LQ 1,44. Nilai ini menunjukkan bahwa sektor informasi dan komunikasi memiliki posisi relatif lebih kuat di NTT dibandingkan posisi sektor yang sama secara nasional. Pada 2025, kontribusinya terhadap PDRB NTT mencapai sekitar Rp9,8 triliun.


Angka tersebut memang belum menjadikan informasi dan komunikasi sebagai sektor terbesar dalam ekonomi NTT. Namun justru di sinilah LQ memberikan cara pandang yang berbeda. Sebuah sektor tidak harus menjadi penyumbang terbesar untuk memiliki keunggulan relatif.


Di tengah perubahan ekonomi yang semakin digital, posisi seperti ini layak mendapatkan perhatian. Infrastruktur digital, perluasan konektivitas, kebutuhan layanan berbasis teknologi, pertumbuhan ekonomi digital, hingga pemanfaatan data dapat membuka ruang yang semakin besar bagi sektor ini. Dengan kata lain, sektor yang hari ini mungkin belum terlihat dominan dapat menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi NTT pada masa mendatang.


Hal serupa terlihat pada jasa keuangan dan asuransi yang memiliki LQ 1,07. Nilainya memang tidak setinggi sektor pertanian maupun pendidikan. Meski demikian, sektor tersebut memiliki tingkat konsentrasi relatif sedikit lebih tinggi dibandingkan struktur perekonomian nasional. Pada tahun 2025, sektor ini menyumbang sekitar Rp6,3 triliun terhadap PDRB NTT.


Bagi daerah dengan karakteristik geografis kepulauan seperti NTT, penguatan sektor keuangan memiliki arti strategis. Akses pembiayaan, layanan perbankan, asuransi, dan berbagai instrumen keuangan dapat menjadi penopang bagi sektor-sektor produktif lainnya, terutama usaha pertanian, perikanan, perdagangan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah.


Dua sektor lain yang juga patut mendapat perhatian adalah jasa pendidikan dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Keduanya bahkan memiliki nilai LQ yang cukup tinggi, masing-masing 2,78 dan 2,06. Sementara itu, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib mencatat LQ tertinggi, yaitu 3,85. Apa artinya?


Secara relatif, aktivitas ekonomi pada sektor-sektor tersebut memiliki porsi yang lebih besar di NTT daripada porsi sektor yang sama dalam perekonomian Indonesia.


Tentu saja, kita tidak boleh langsung menerjemahkan angka LQ tinggi sebagai tanda bahwa sektor tersebut sudah memiliki produktivitas paling tinggi atau telah memberikan nilai tambah paling besar. LQ lebih tepat dibaca sebagai indikator keunggulan komparatif dan spesialisasi relatif.


Meski demikian, justru dari sanalah kita dapat melihat sebuah peluang.


Jika suatu sektor memiliki konsentrasi relatif tinggi, maka terdapat basis ekonomi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Dari hasil analisis, NTT tidak hanya memiliki kekuatan pada sektor yang selama ini sudah dikenal secara tradisional. Ada pula kekuatan pada sektor jasa yang mungkin belum selalu terlihat dalam percakapan sehari-hari mengenai ekonomi daerah.


Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang harus dilakukan setelah mengetahui sektor unggulan? Di sinilah analisis LQ tidak boleh berhenti pada tabel dan angka. LQ seharusnya menjadi pintu masuk untuk menentukan arah kebijakan. Sektor dengan LQ tinggi dapat dipetakan lebih lanjut: apa penyebab keunggulannya, bagaimana perkembangan produktivitasnya, siapa pelaku utamanya, apa hambatannya, dan bagaimana sektor tersebut dapat menciptakan efek pengganda bagi sektor lain, dan sebagainya.


Pertanian, kehutanan, dan perikanan, misalnya, tidak cukup hanya dipandang sebagai sektor penyedia bahan mentah. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan hilirisasi, meningkatkan nilai tambah, memperkuat rantai pasok, memperluas akses pasar, dan meningkatkan produktivitas.


Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi mungkin membutuhkan ekosistem yang berbeda. Bisa dilihat dari segi kualitas sumber daya manusia, infrastruktur digital, akses internet, inovasi, dan keterhubungan dengan dunia usaha.


Jasa keuangan membutuhkan perluasan inklusi keuangan dan akses pembiayaan. Pendidikan dan kesehatan membutuhkan peningkatan kualitas layanan sekaligus penguatan sumber daya manusia. Sedangkan sektor administrasi pemerintahan perlu dipandang bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai fondasi penyediaan layanan publik yang mendukung aktivitas ekonomi sektor lainnya. Pada akhirnya, data bukanlah tujuan. Data adalah alat untuk melihat peluang yang terkadang belum terlihat. Sektor yang hari ini dianggap “underrated” bisa jadi justru memiliki fondasi yang lebih kuat daripada yang kita kira. Hal yang dibutuhkan selanjutnya adalah keberanian untuk membaca angka, menguji potensi tersebut dengan analisis yang lebih mendalam, lalu menerjemahkannya menjadi kebijakan. Karena masa depan ekonomi NTT tidak hanya ditentukan oleh sektor yang sudah besar hari ini, tetapi juga oleh kemampuan kita mengenali sektor yang memiliki potensi menjadi besar esok hari.(*)


Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur (Statistics of Nusa Tenggara Timur Province)Jl. R. Suprapto No. 5 Kupang - 85111

Telp (0380) 826289; 821755; Faks (0380) 833124

Mailbox : pst5300@bps[dot]go[dot]id

bps5300@bps[dot]go[dot]id

logo_footer

Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik